Tuesday, March 6, 2012

Hubungan pemeliharaan dengan proses produksi

Pemeliharaan menyangkut juga terhadap proses produksi sehari-hari dalam menjaga agar seluruh fasilitas dan peralatan perusahaan tetap berada pada kondisi yang baik dan siap selalu untuk digunakan. Kegiatan hendaknya tidak mengganggu jadwal produksi.
Menurut Sofyan, (2004) agar proses produksi berjalan dengan lancar, maka kegiatan pemeliharaan yang harus dijaga dengan langkah-langkah sebagai berikut:
  1. Menambah jumlah peralatan dan perbaikan para pekerja bagian pemeliharaan, dengan demikian akan di dapat waktu rata-rata kerusakan dari mesin yang lebih kecil,
  2. Menggunakan pemeliharaan pencegahan, karena dengan cara ini dapat mengganti parts yang sudah dalam keadaan kritis sebelum rusak,
  3. Di adakannya suatu cadangan di dalam suatu sistem produksi pada tingkat kritis, sehingga mempunyai suatu tempat paralel apabila terjadi kerusakan mendadak. Dengan adanya suku cadangan ini, tentu akan berarti adanya kelebihan kapasitas terutama untuk tingkat kritis tersebut, sehingga jika ada mesin yang mengalami kerusakan, perusahaan dapat berjalan terus tanpa menimbulkan adanya kerugian karena mesin-mesin menganggur,
  4. Usaha-usaha untuk menjadikan para pekerja di bidang pemeliharaan ini sebagai suatu  komponen  dari  mesin-mesin  yang  ada,  dan  untuk  menjadikan  mesin tersebut sebagai suatu komponen dari suatu sistem produksi secara keseluruhan,
  5. Mengadakan percobaan untuk menghubungkan tingkat-tingkat sistem produksi lebih cermat dengan cara mengadakan suatu persediaan cadangan diantara berbagai tingkat produksi yang ada, sehingga terdapat keadaan dimana masing- masing tingkat tersebut tidak akan sangat tergantung dari tingkat sebelumnya.
 Hubungan kegiatan pemeliharaan dengan biaya
Tujuan utama manajemen produksi adalah mengelola penggunaan sumber daya berupa faktor-faktor produksi yang tersedia baik  berupa bahan baku, tenaga kerja, mesin dan fasilitas produksi agar proses produksi berjalan dengan efektif dan efisien. pada saat ini perusahaan-perusahaan yang melakukan kegiatan pemeliharaan harus mengeluarkan biaya pemeliharaan yang tidak sedikit.
Menurut Mulyadi (1999), dalam bukunya akuntansi biaya, biaya dari barang yang diproduksi terdiri dari:
a.   Direct Material Used (biaya bahan baku langsung yang digunakan),
b.   Direct manufacturing Labor (biaya tenaga kerja langsung),
c.   Manufacturing Overhead (biaya overhead pabrik).
Permasalahan yang sering dihadapi seorang manajer produksi adalah bagaimana menentukan untuk melakukan kebijakan pemeliharaan baik untuk pencegahan maupun setelah terjadinya kerusakan, dari kebijakan itulah nantinya akan mempengaruhi terhadap pembiayaan. Oleh karena itu, seorang manajer produksi harus mengetahui hubungan kebijakan pemeliharaan dengan biaya yang ditimbulkan sehingga tidak salah dalam mengambil kebijakan tentang pemeliharaan. Dibawah ini diperlihatkan hubungan biaya pemeliharaan pencegahan (preventive maintenance) dan breakdown dengan total biaya.
gb3
(Sumber: Heizer, Jay and Render, Barry, (2001), Operation Management, Prentice Hall, sixt Edition)
Gambar diatas menunjukkan hubungan tradisional antara pemeliharaan pencegahan (preventive maintenance) dengan pemeliharaan breakdown (breakdown maintenance)  yang  menjelaskan  bahwa  manajer  operasi  harus  bisa mempertimbangkan keseimbangan antara kedua biaya. Di satu pihak, dengan menempatkan sumber daya pada kegiatan pemeliharaan pencegahan akan mengurangi jumlah kemacetan. Sama halnya dengan mengurangi pemeliharaan breakdown biaya akan  lebih  murah  jika  dibandingkan  dengan  biaya  pemeliharaan  pencegahan.  Di waktu yang sama kurva total biaya akan menaik.
 Faktor penghambat dalam melaksanakan kerja
Menurut Asyari, (2007) faktor-faktor yang dapat menimbulkan hambatan pekerjaan adalah sebagai berikut:
1.   Menunggu order yang terlalu lama,
2.   Mengunjungi suatu tempat untuk mengetahui apa yang harus di lakukan,
3.   Mengadakan perjalanan yang tidak perlu,
4.   Banyaknya perjalanan untuk mengambil dan mengembalikan alat,
5.   Terlalu  banyaknya  pekerja  yang  turut  campur  tangan  pada  pekerjaan  yang sebenarnya dapat lebih mudah di tangani oleh sedikit pekerja,
6.   Menunggu selesainya pekerjaan dari jenis keterampilan lain,
7.   Mencari tempat kerja,
8.   Mencoba untuk memperbaiki informasi yang tidak jelas,
9.   Hilangnya waktu karena pembatalan order,
10. Tidak tersedianya material yang di butuhkan.

  Analisa kebijakan Pemeliharaan
Dengan demikian metode yang digunakan untuk memelihara mesin dalam perusahaan adalah metode probabilitas untuk menganalisa biaya. Menurut Handoko (1999), Langkah-langkah perhitungan biaya pemeliharaan adalah:
a. Menghitung  rata-rata  umur  mesin  sebelum  rusak  atau  rata-rata  mesin  hidup dengan cara:
Rata-rata mesin hidup =∑ (bulan sampai terjadinya kerusakan setelah perbaika n  X  probabilitas terjadinya kerusakan)
 
b.   Menghitung biaya yang dikeluarkan jika melaksanakan kebijakan pemeliharaan breakdown:
rumus2
c.   Menghitung biaya yang dikeluarkan jika melaksanakan kebijakan pemeliharaan preventive:
Untuk menentukan biaya pemeliharaan preventive meliputi pemeliharaan setiap satu bulan, dua bulan, tiga bulan dan seterusnya, harus dihitung perkiraan jumlah kerusakan mesin dalam suatu periode.
Rumusnya adalah:
rumus3

No comments:

Post a Comment